YAJNA, TAKSU BALI, DAN CORONA

YAJNA, TAKSU BALI, DAN CORONA

I Nyoman Sutantra

(sebuah renungan sederhana yang mungkin patut direnungkan)

       Pada akhir-akhir ini banyak yang membahas, mendiskusikan, dan mengulas Yajna sebagai pelaksanaan Agama Hindu di Bali. Sering sekali ulasannya dibubuhi dengan sedikit emosi yang mengatakan bahwa yajna telah menjadi beban berat bagi sebagian masyarakat, bukan lagi dirasakan sebagai kewajiban suci dalam menjalankan ajaran Agama Hindu. Dengan beban berat yang dirasakan untuk melaksanakan Yajna, maka banyak umat Hindu yang pindah agama.

       Disisi lain, perbincangan yang paling gres ahir-akhir ini ditingkat internasional dan nasional adalah perbincangan tentang dampak Virus Corona di Bali. Banyak para ahli memperkirakan Bali akan menjadi sentra pandemi virus corona yang utama di Indonesia, karena pada saat Virus Korona sedang berkecamuk di Tiongkok, para wisatawan Tiongkok di Bali cukup banyak bahkan jumlahnya nomer 2 setelah wisatawan dari Australia. Namun pada kenyataan, atas Asung Kertha Wara Nugraha Sang Hyang Widdhi Wasa, Bali saat ini sudah keluar dari 10 besar daerah terdampak virus corona di Indonesia, dengan tingkat kesembuhan mencapai 70% jauh melebihi rata-rata nasional dan internasional. Patut direnungkan dengan hati jernih, karena semua itu bisa jadi akibat vibrasi kesucian Yajna dan kekuatan Taksu Bali yang berupa Taksu Parahiyangan, Pawongan, dan Palemahan Bali. 

      Dalam kondisi pembahasan dan ulasan yang sedikit emosional dengan pandangan bahwa Yajna merupakan beban berat secara ekonomi, maka mungkin akan sedikit sulit untuk melihat sisi positif dari Yajna. Karena itu untuk lebih adil dan bijak dalam melihat hal tersebut, mari kita melihat Yajna itu dengan hati yang hening dari sisi negatif dan positif sebagai pelaksanaan agama Hindu yang suci dan luhur.

      Untuk dapat melihat dengan jernih dan bijak sisi positif dan negatif dari Yajna, mari kita simak dan renungkan pesan dari leluhur yang tersurat dan tersirat dalam pupuh ginanti sebagai berikut:

Baline mule kasumbung, Seni budayane ngawinin, Lestari seni budaya, Adat Agama nasarin, Rakete menyama braya, Saling asah-asuh-asih.

Arti yang tersurat dan tersirat dari pupuh ginanti diatas adalah:

Bali sangat terkenal di seluruh dunia, bahkan ia disebut sebagai pulau surga, pulau seribu pura, pulau dewata, pulau yajna. Semua itu diawali dan disebabkan oleh keindahan seni dan keluhuran budaya dari masyarakat Bali. Dengan santun, teguh, dan penuh disiplin seluruh masyarakat Bali secara bersama-sama terus menjaga, melestarikan, dan mengembangkan keindahan seni serta keluhuran budaya. Semua itu dilakukan dengan dilandasi etita, tata susila, dan tata krama adat yang luhur yang dipatuhi secara tulus dan disiplin. Yang lebih utama adalah bahwa semua itu dilandasi oleh kualitas moral dan spiritual masyarakat Bali, yang dikembangkan melalui kegiatan Yajna sebagai pelaksanaan ajaran Agama Hindu dengan tulus dan penuh rasa bhakti. Sehingga melalui kegiatan Yajna, kehidupan masyarakat Bali menjadi menjadi suatu kehidupan yang indah, rukun, damai, harmonis, tenteram, adil, dan sejahtera, saling asah-asih-asuh.

       “Vibrasi suci” dari kekuatan moral dan spiritual ajaran Agama Hindu yang dianut, “vibrasi luhur” dari nilai-nilai luhur budaya yang dikembangkan, dan “vibrasi indah”dari keindahan alam Bali, menyatu dan “beresonansi” dalam suatu tatanan kehidupan masyarakat Bali yang Satyam-Sivam-Sundaram dan diwujudkan dalam kegiatan Yajna-Dana-Tapa. Kekuatan resonansi dari vibrasi kesucian Agama Hindu, keluhuran budaya Bali, dan keindahan alam Bali itulah berbuah suatu kekuatan “magis” Baliyang kemudian disebut sebagai “Taksu Bali” yang meliputi tiga kekuatan magis yaitu Taksu Parahiyangan, Taksu Pawongan, dan Taksu Palemahan Bali. Beresonansinya dengan indah kesucian ajaran Agama, keluhuran nilai budaya, dan keindahan alam dalam suatu kehidupan yang indah yang mengeluarkan vibrasi magis yang disebut Taksu, hanya terjadi di Bali, kekuatan itulah menjadi daya tarik turisme satu-satunya didunia. Taksu Parahiyangan Bali sangat mungkin karena Ida Sang Hyang Widdhi Wasa telah mengutus para Dewa-Dewi untuk terus menerus menjaga kesucian Alam Bali sehingga Bali disebut Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura. Taksu Pawongan Bali sangat mungkin karena para leluhur orang Bali yang telah menjadi Dewa Pitara terus menjaga, melindungi, dan menuntun masyarakat Bali untuk selalu menjaga kesucian pikiran (manacika), kelebutan dan kesantunan perkataan (wacika), dan keluhuran perbuatan (kayika) dalam menegakkan ajaran Dharma. Disamping teguh menegakkan Dharma, masyarakat Bali juga teguh melestarikan seni, budaya yang dilandasi adat dan Agama. Atas lindungan dan tuntunan leluhur, masyarakat Bali mampu membangun kehidupan yang shanti dan sundaram bagaikan kehidupan surgawi, sehingga disebut pulau surgawi. Taksu Palemahan sangat mungkin karena Bali dijaga dan dilindungi dari segala penjuru oleh Dewata Nawa Sangga, serta masyarakat Bali ajeg dalam menjalankan “Sad Krtih” yaitu Jana Krtih, Atma Krtih, Buwana Krtih, Wana Krtih, Danu Krtih, dan Segara Krtih. Sad Krtih adalah kegiatan Yajna untuk menjaga kesucian, kesuburan, dan keindahan alam Bali (buwana agung) dan diri manusia Bali (buwana alit). Kesucian, keindahan, dan kesuburan alam yang dijaga dengan baik  melalui Sad Krtih, sehingga  dapat memberi kesejahteraan pada masyarakata Bali dan juga dapat menyentuh serta menarik hati para wisatawan dalam dan luar negeri. Dan sangat mungkin karena kekuatan vibrasi suci dari Yajna dan kekuatan magis dari Taksu Bali,  masyarakat Bali dapat mengatasi dengan baik dan penuh kedamaian berbagai rintangan dan ancaman seperti bom Bali, berbagai jenis wabah, dan yang terakhir wabah Virus Korona.

        Selanjutnya marilah kita kembali menyimak dan merenungkan pesan leluhur yang tersurat dan tersirat dalam pupuh ginanti sebagai kelanjutan dari pupuh ginanti diatas.

Dumugi kantos kapungkur, Sweca Ida Sang Hyang Widdhi, Mapaica kautaman, Degdeg landuh jagat Bali, Setata eling meyajna, Janten panggih ne keapti.

        Adapun yang tersurat dan tersurat dari pupuh ginanti diatas dapat diungkapkan sebagai berikut.

Semoga masyarakat Bali selalu dapat menjaga kesucian ajaran Agama, keluhuran nilai budaya, kesuburan dan keindahan alam Bali, sehingga Bali tetap ber-Taksu. Dengan doa tulus dan penuh rasa bhakti, semoga Ida Sang Hyang Widdhi Wasa selalu Asung Kertha Wara Nugraha, menganugrahkan masyarakat Bali kecerdasan spiritual, kearifan dan kebijaksanaan. Melalui Yajna yang “Satwika” yang disadari sebagai suatu kewajiban suci dalam melaksanakan ajaran Agama, semoga masyarakat Bali dapat mencai tujuan hidupnya .Semoga masyarakat dapat secara terus menerus menjaga dan mengembangkan kehidupan masyasakat yang indah, rukun, damai, harmonis, tenteram, adil dan sejahtera.

        Yajna sebagai kewajiban suci yang dilaksanakan masyarakat Bali dalam mekasanakan ajaran Agama adalah Yajna yang Satwika, yang menjadi simpul resonansi dari kesucian vibrasi Agama, keluhuran nilai budaya, dan keindahan alam Bali. Taksu Bali yang meliputi Taksu Parahiyangan, Taksu Pawongan, dan Taksu Palemahan Bali adalah buah dari kesucian, keluhuran, dan kekuatan “magis” dari Yajna yang Satwika. Hal tersebut terjadi karena Yajna Satwika dilaksanakan dengan landasan “sastra drsta” (nilai suci dan luhur dari ajaran Agama/sastra), “sila drsta” (nilai etita, tata susila, dan tata krama luhur yang diajarkan para Rsi orang suci yang diabadikan dalam lontar-lontar), “loka drsta” (adat istidat dari masyarakat). Yang juga sangat penting adalah Yajna Satwika harus sesuai “atmanastusti” yaitu dapat memenuhi rasa, sesuai hati nurani, sesuai nalar, dan sesuai dengan kemampuan material, serta lahir dan batin manusia. Dengan Yajna Satwika seperti itu akan menghasilkan vibrasi suci bagi umat manusia dan tidak menjadi beban bagi kehidupan manusia.  

        Yajna Satwika yang dilaksanakan oleh masyarakat Bali untuk dapat menjaga Taksu Bali adalah Yajna yang dilandasi “catur yoga marga”. Yajna harus dilaksankan dengan tulus dan lascarya (karma yoga marga), serta dengan adanya persembahan suci dengan penuh rasa bhakti (bhakti yoga marga). Yajna Satwika juga harus mengandung atau sebagai “niasa” dari nilai nilai luhur dari ajaran Agama Hindu yang dapat menuntun manusia untuk pendakian spiritual (jnana yoga marga), dan disertai doa-doa dan meditasi sebagia penyerahan dan pengendalian diri secara total (raja yoga marga)”.

      Karena berjalannya waktu, perkembangan jaman, perkembangan ilmu dan teknologi, dan pengaruh indusri pariwisata, serta pengaruh sifat-sfat alam terutama sifat “Tamasika” dan “Rajasika”, maka nilai nilai Satwika dari Yajna sudah terkikis. Yajna menjadi Yajna yang “Rajasika” dan “Tamasika” yang kehilangan rasa bhakti dan lascaraya, serta nilai dan kekuatan “magis”, yang dapat melestarikan Taksu Bali, sehingga menjadi beban bagi masyarakat. Masyarakat Bali harus selalu “eling lan waspada”, ingat, sadar, dan kembali untuk dapat  melaksanakan Yajna yang Satwika, serta menjaga Taksu Bali. Kebesaran dan kekuatan Hindu di Bali adalah karena kekuatan Yajna yang Satwika yang berbuah Taksu Bali. Umat Hindu di Bali harus terus menjaga Taksu Bali dengan Yajna Satwiaka Bali, umat Hindu di Jawa harus menjaga Taksu Jawa dengan Yajna Satwika Jawa. Begitu juga      umat Hindu di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan ditempat lain harus menjaga Taksu masing-masing dengan Yajna Satwika masing-masing, semoga kemudian Taktu-Taksu itu akan menjadi Taksu Nusantara yang mewujudkan Hindu Nusantara.

       Dari apa yang tersurat dan tersirat dari uraian diatas menunjukkan, bahwa tatanan kehidupan masyarakat Bali dalam mengatasi pandemi Virus Korona patut melaksanakan lima kewajiban  yang disebut “Panca Brata”, yang sesuai dengan Protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah, sebagai berikut.

Hadapi Corona
  1. Wajib menjaga kesucian dan kebersihan pikiran agar selalu berpikir positif, adil, arif, dan bijaksana, dengan pengendalian hawa nafsu, ego, kemarahan, kesombongan, keagkuhan, dan keserakahan melalui perenungan mendalam yang diwujudkan dengan “tetap dirumah”.
  2. Wajib menjaga kesucian perkataan untuk selalu santun, jujur, benar, menyejukkan, tidak mengejek, tidak mencemoh, tidak mengeluh, tidak bikin berita bohong yang diwujudkan “ pakai masker”.
  3. Wajib menjaga kesucian dan kesehatan lahir bathin yang diwujudkan dengan “cuci tangan”, cuci badan, dan berprilaku luhur.
  4. Wajib menjaga dan mematuhi tata krama adat dan budaya luhur dengan membangun kehidupan saling menghormati, rukun, damai, harmonis,saling asah, saling asih, dan saling asuh yang diwujudkan melalui “pembatasan sosial”.
  5. Wajib selalu berdoa untuk membangun moral kebajikan, menjaga kesucian hati, menegakkan Dharma dihati, teguh meniti jalan spiritual yang penuh dengan kasih sayang yang diwujudkan melalui “sembahyang dari rumah”.

Dengan selalu patuh dan tulus melaksanakan lima kewajiban diatas, walaupun tanpa menetapkan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), semoga masyarakat Bali dapat mengatasi pandemi Virus Korona dengan damai.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of