Kategori
Uncategorized

RENUNGAN KORONA

RENUNGAN KORONA

What are the possibilities of replenishing the account and withdrawing funds of the https://ltccasino.co.uk/ online casino?

Hasil renungan selama bekerja dari rumah

Sambil megegitaan.

I Nyoman Sutantra

          Setiap kejadian sekecil dan sebesar apapun di dunia ini pastilah seijin Tuhan yang telah menciptakan dunia ini. Melalui hukum karma yang diciptakan Tuhan sebagai hukum kehidupan, setiap ada perbuatan (karma) sebagai sebab pasti juga akan ada hasil atau akibatnya (pahala). Dan setiap proses sebab dan akibat didunia ini pastilah mengandung pesan atau pelajaran luhur bagi umat manusia untuk meniti kehidupan spiritual yang penuh kasih sayang.

         Pada kisah Ramayana, karena tidak bisa mengendalikan nafsu, keserakahan, dan kemarahan Rahwana menculik Dewi Sita istri Rama, mengakibatkan perang besar antara Rama yang didukung raja Sugriwa dengan pasukan keranya  melawan Rahwana sebagai raja Alengka dengan pasukan raksasanya. Karena perang besar tersebut maka mengakibatkan terbunuhnya Rahwana dan hancurnya kerajaan Alengka. Banyak rakyat Alengka menjadi janda dan sengsara akibat ditinggal suaminya yang terbunuh dalam perang.

Pesan dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut adalah bahwa, nafsu, keserakahan, dan kemarahan akan dapat berakibat kesengsaraan dan kehancuran bagi dirinya dan juga bagi umat manusia. Bahkan dalam sastra suci Bhagavad Gita dikatakan: nafsu, kemarahan, dan keserakahan adalah pintu gerbang menuju neraka, kesengsaraan.

        Pada kisah Mahabarata, karena rasa sayang yang buta dan berlebihan raja Drestarastra kepada anaknya Duryodana, maka ia tidak dapat berlaku adil kepada anak dari Pandu, yang memiliki hak pada tahta kerajaan. Duryadana menjadi anak yang penuh dengan kemarahan, nafsu dan keserakahan akan harta dan tahta. Sedangkan anak Pandu (adik Drestrarastra) yaitu Yudistira dan 4 saudaranga menjadi anak yang santun dan teguh memegang keberan, etika dan tata krama luhur, sehingga dapat hidup rukun, damai, harmonis, adil, satu, dan bersatu. Untuk maksud menyingkirkan Yudistira dan saudaranya, raja Drestarastra mengijinkan perjudian yang penuh tipu muslihat antara Duryadana dengan Yudistira dan saudaranya, disaksikan oleh raja, Rsi Bisma, guru Drona dan para pejabat. Karena kecersadasan dan kelicikan Sakuni, paman dari Duryadana, dapat membuat Yudistira mempertaruhkan kerajaannya dan juag istrinya yang berakhir dengan kekalahan. Karena kekalahan dalam perjudian itu, maka Yudistira dan saudaranya dibuang kehutan selama 13 tahun, bahkan istrinya Drupadi ditelanjangi oleh Dursasana, atas perintah Duryadana didepan raja dan para pejabat kerajaan. Raja Drestarastra walau tahu bahwa segala tindakan itu salah melanggar etika, namun karena cintanya yang buta kepada anaknya, maka ia membiarkan semua itu terjadi. Karena terikat oleh janji dan sumpahnya untuk selalu tunduk pada kehendak raja, maka Rsi Bisma, sebagai penasehat raja, juga tidak bisa menghentikan tindakan Dursasana adik Duryadana yang melanggar etika dan tata susila. Juga karena telah menerima kehormatan sebagai guru utama dan gelimangan harta dari raja Drestarastra, maka guru Drona juga tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan Duryadana dan Dursasana. Karna sebagai seorang kesatria besar, putra sulung dari Dewi Kunti, karena keangkuhannya dimanfaatkan oleh Duryadana. Karna diangkat sebagai raja, bagian dari kerajaan Astina, oleh Duryadana pada saat harga diri Karna dihancurkan didepan umum. Akibatnya Karna merasa sangat berhutang budi dan menganggap Duryadana sebagai sahabat sejati. Karena sikap dan tindakan raja Drestarastra, Rsi Bisma, Guru Drona dan Karna, yang seharusnya mampu mengendalkan konflik, tetapi tidak melakukannya, maka berakibat terjadinya perang saudara yang dahsyat antara pihak Duryodana (Kurawa) dan pihak Yudistira (Pandawa) yaitu “Barata Yuda”. Perang dahsyat tersebut telah mengakibatkan terbunuhnya ribuan kesatria besar dan ratusan raja, serta menyengsarakan rakyat. Perang besar tersebut dimenangkan oleh Pandawa yang selalu memegang teguh moral kebajikan dan selalu satu dan bersatu, mengendalikan ego, nafsu, keangkuhan dan keserakahan.

Pesan dan pelajaran penting yang patut dipetik adalah: sebagai raja atau pemimpin janganlah seperti raja Drestarastra. Sebagai tokoh besar, penasehat raja, janganlah terjebak seperti Rsi Bisma. Sebagai guru Besar, guru bangsa, janganlah terjebak seperti Guru Drona. Sebagai kesatria besar, janganlah terjebak hutang budi seperti Karna. Sebagai putra raja, janganlah angkuh dan serakah seperti Duryodana. Sebagai ilmuwan cerdas, janganlah licik dalam menggunakan kecerdasannya seperti Sakuni. Jadilah manusia yang selalu santun dan teguh menegakkan kebenaran, mengendalikan nafsu, ego, kemarahan, keserakahan, dan hiduplah rukun, damai, harmonis, adil, satu, dan bersatu seperti Pandawa.        

         Pada saat perang “Barata Yuda” telah terjadi wabah dahsyat yaitu kematian masal yang mistirius dari pasukan Kurawa dan juga Pandawa, diakibatkan oleh virus berupa pasukan raksasa kerdil yang berkembang dan berubah dengan cepat dan tidak terlihat dengan mata biasa. Virus berupa raksasa kecil tersebut dapat dengan mudah  membuat setiap orang yang dekat menjadi batuk, sesak nafas, pusing dan langsung meninggal. Pasukan raksasa tersebut sangat mistirius, berjumalah sangat banyak, dan sangat cepat memperbanyak serta merubah diri sehingga sangat sulit dikendalikan, membuat baik pihak Pandawa maupun Kurawa cemas. Virus berupa pasukan raksasa ini adalah datang dari enersi ilmu supra natural yang disebut “ajian Candrabirawa” yang dimiliki prabu Salya yang menggunakannya dengan penuh nafsu, kemarahan, dan kerakahan. Parabu Salya adalah seorang raja, paman dari Nakula dan Sadewa (Pandawa), karena terjebak oleh kelicikan Sakuni, maka pada perang Barata Yuda ia memihak pada Kurawa. Tidak ada yang mampu mengendalikan wabah dahsyat kemanusian tersebut baik dari pihak Kurawa maupun Pandawa. Hanya Krisna, orang suci pemegang moral, sebagai penasehat perang Pandawa dapat mengetahui dengan jelas bahwa wabah dahsyat itu hanya bisa dihentikan dengan pengetahuan kebenaran, kekuatan moral, kebajikan, welas asih, ketulusan, dan kedisiplinan yang tulus. Semua sifat itu dimiliki oleh Yudistira, dan pengetahuan kebenaran yang disebaut Cakra Baskara yang dimiliki oleh Krisna. Yudistira dengan bekal sikap luhur tersebut dan pengetahuan keberan berupa Cakra Baskara dari Krisna berperang melawan Prabu Salya, berakhir dengan terbunuhnya Salya, sebagai sumber dari wabah dahsyat, dan seketika wabah berhenti.

Pesan dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut: sebagai pemimpin, sebagai kesatria besar, dan sebagai orang yang memiliki  kekuatan supra natural gunakanlah itu untuk kemanusiaan, janganlah seperti Salya yang menggunakan kekuatannya itu dengan penuh nafsu, kemarahan, dan keserakahan. Untuk menghadapi wabah yang dahsyat yang mengakibatkan kesengsaraan dan kematian, belajarlah dari sikap dan tindakan luhur yang dimiliki dan dilakukan oleh Krisna dan Yudistira.           

         Setelah jaman Mahabarata, yaitu jaman modern seperti sekarang ini, masih sangat banyak umat manusia yang belum dapat memahami pesan dan memetik pelajaran luhur dari kisah Ramayana, Mahabarata, dan kisah-kisah luhur lainnya. Manusia di jaman modern banyak yang tidak mampu mengendalikan nafsu, ego, kemarahan, keserakahan, dengki, iri hati, kegelapan, dan kebodohan sehingga sangat sering mengakibatkan perselisihan, konflik, radikalisme negatif, dan perang yang dapat menyengsarakan, menyakiti, dan membunuh umat manusia. Karena keserakahan akan tahta dan harta, manusia di jaman modern telah merusak habis hutan sehingga berakibat pemanasan global, banjir, tanah longsor, puting beliung, turunnya air tanah dan dampak negatif lainnya yang dapat menyengsarakan dan merusak kehidupan manusia. Dengan nafsu, ego, dan keserakahan manusia  akan harta dan tahta telah mengakibatkan perselisihan, konflik, dan perang antar individu, kelompok, dan golongan yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan suatu bangsa. Kekayaan alam sebagai anugrah Tuhan yang seharusnya dijaga dan digunakan dengan hati-hati untuk kesejahteraan umat manusia, telah dengan penuh nafsu, kemarahan, dan keserakahan telah dikeruk sebanyak-banyaknya. Dengan terkeruknya kekayaan alam seperti itu, maka alam akan mencari keseimbangan kembali melalui gempa, pergeseran lempeng, tsunami, gunung meletus, perubahan musim yang tidak lagi dapat diprediksi, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menyengsarakan umat manusia. Semua kegiatan alam tersebut mengandung pesan dan pelajaran luhur yang seharusnya mampu dipahami dan dipetik oleh manusia modern.

        Dengan alasan konsumsi, pemenuhan gisi, stamina, pengobatan, penelitian dan kebutuhan lainnya, manusia dengan serakah menyiksa dan membunuh binatang-binatang dengan tanpa mengindahkan etika kebinatangan. Menyiksa dan membunuh binatang dengan tanpa etika kebinatangan, akan sangat mungkin membuat jiwa-jiwa dari para binatang memancarkan energi negatif yang dapat merusak kesucian dan kebersihan alam lingkungan. Pancaran energi negatif dari jiwa-jiwa binatang yang tersiksa dan terbunuh dapat menghasilakn virus atau kuman yang mengakibatkan berbagai jenis penyakit yang mewabah dan mematikan. Flu burung, flu ayam, flu babi, flu unta, dan juga Virus Korona yang sangat mungkin buah dari pancaran energi negatif dari jiwa jiwa binatang yang tersakiti, tersiksa, dan terbunuh yang terakumulasi. Karena terakumulasi sangat banyak sehingga energinya sangat kuat yang mengakibatkan wabah pandemi Virus Korona berkembang dan berubah sangat cepat memasuki hampir seluruh negara di dunia, kedahsyatannya seperti wabah dahsyat Aji Candrabirawa Prabu Salya. Semua kejadian itu pastilah mengandung pesan dan pelajaran yang memuat nilai-nilai luhur untuk dapat menuntun kehidupan luhur umat manusia.  Untuk mengatasi wabah pandemi yang dahsyat ini kita dapat belajar dari Krisna dan Yudistira dalam menghadapi virus dahsyat berupa raksasa kerdil yang tak terlihat dari Aji Candrabirawa, saat perang Barata Yuda.

        Pesan dan pelajaran dari Krisna dan Yudistira, salah satu yang utama untuk mengatasi wabah dahsyat adalah dengan senjata kebenaran dalam wujud Cakra Baskara dari Krisna, moral, kebajikan, dan budi luhur dari Yudistira. Cakra Baskara pada jaman modern dapat berupa segala pengetahuan kebenaran yang patut diberdayakan oleh para ahli secara tulus dan tanpa pamrih, untuk menghasilkan vaksin, obat obatan, dan segala peralatan bantu dalam usaha menghindari penyebaran dan membantu penyembuhan akibat Virus Korona. Umat manusia harus meningkatkan kualitas moral dan kebajikan dengan mengendalikan pikiran, nafsu, kemarahan, ego, keserakahan, dan disertai doa untuk tidak cemas dan stress yang diwujudkan dengan “tetap berada dirumah” dan “bekerja dari rumah”. Disamping itu umat manusia harus mengendalikan perkataanya untuk selalu santun, tidak mencemoh, tidak mengejek, tidak menyakiti, tidak berbohong, tidak bikin berita sosial bohong, tidak mengasut, tidak mengeluh, dan tidak melakukan penistaan yang diwujudkan dengan “memakai masker”. Begitu juga umat manusia harus menjaga budi pekerti luhur dengan selalu menjaga kehidupan yang saling menghormati, saling berbagi, rukun, damai, harmonis, saling asah, saling asih, saling asuh yang diwujudkan dengan “menjaga jarak”. Akhirnya umat manusia juga harus selalu menjaga kesucian, kebersihan, dan kesehatan lahir dan batin dengan menjaga kualitas makan dan olah raga untuk imunitas tubuh yang diwujudkan dengan “cuci tangan dengan sabun”. Kelima hal tersebut patut dilaksanakan dengan penuh disiplin, tulus, tanpa pamrih, dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Dengan cara demikian dengan disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga umat manusia dikaruniai kerahayuan, dilapangkan jalan untuk mengatasi pandemi yang melanda umat manusia.

Ditutup dengan pupuh Durme:

Nenten lali setate nyuciang tangan,

Kesarengin nyuciang rage,

Nguncarang mantra Gayatri,

Miwah Maha Mertyu mantra,

Mangde side kerahayuan,

Luput antuk

Serangan virus korona.      

Kategori
Uncategorized

LOMBA BALEGANJUR SURABAYA

RANGKAIAN KEGIATAN PIODALAN PURA SEGARA SURABAYA

Dalam rangka menyambut Piodalan Pura Segara Surabaya yang jatuh pada Purnamaning Kapat hari Minggu,13 Oktober 2019. Rangkaian kegiatannya dimulai pada hari Minggu, 29 September 2019 dengan beberapa acara menarik yang dimulai sejak pagi hari sampai menjelang sore hari, dimulai pagi hari jam 06.00 WIB Kegiatan Senam yang dilanjutkan dengan Jalan Sehat mengelilingi Perumahan Komplek TNI-AL Kenjeran yang berada disekitar Pura Segara Surabaya sampai finish kembali di Wantilan Agung Dewa Ruci dilanjutkan dengan acara pengundian kupon jalan sehat dengan ratusan hadiah hiburan serta beberapa hadiah yang bernilai cukup besar. Undian hadiah dilakukan bersamaan dengan acara Bazaar,sebagai informasi bahwa Kegiatan Jalan Sehat dan Bazaar adalah kegiatan yang sudah rutin dilakukan dalam beberapa tahun terakhir meramaikan Piodalan Pura Segara yang dari tahun ke tahun peserta maupun penontonnya semakin bertambah ramai.

Virtual gaming clubs are unique entertainment platforms where you can play with money. Such a site presents a variety of games in which you can use money for bets and receive a well -deserved gain. Such clubs not Magic win used standard entertainments that can be found in a ground casino, but also developed several unique offers for their visitors.

https://purasegarasurabaya.net/lomba-baleganjur-surabaya/

Lomba Baleganjur di Surabaya baru pertama kali dilaksanakan di Pura Segara Surabaya, sebagai salah satu pembinaan Seni dan Budaya. Meriahnya suasana Lomba Baleganjur yang dilaksanakan setelah acara Senam dan Jalan Sehat diselingi dengan pengundian kupon berhadiah menambah semangat para penonton untuk tetap bertahan menikmati setiap urutan acara, susunan acara Lomba Baleganjur bersamaan dengan acara Bazaar yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau sangat dinikmati penonton dengan terlihat suasana semenjak acara dibuka tetap semangat sampai pengumuman pemenang Lomba Baleganjur tetap tak beranjak dari tempat duduk, tentunya momen itu adalah suasana yang sangat langka di Surabaya. Menikmati hiburan lomba baleganjur sambil menikmati makanan dan minuman yang pasti enak, bersamaan dengan suasana para hadirin yang berharap agar mendapat hadiah undian adalah momen yang sangat istimewa. Banyaknya penonton yang beruntung mendapatkan hadiah undian adalah salah satu momen yang membahagiakan, terlebih Panitia dan warga yang sudah ngayah bekerja keras menyiapkan acara adalah kebahagiaan yang istimewa.

Hasil dari penilaian 3 dewan juri pada Lomba Baleganjur di Wantilan Agung Dewa Ruci, Pura Segara Surabaya 2019 pada Minggu, 29 September 2019 adalah sebagai berikut :

  • Juara 1 Sekeha Baruna Sakti Swara – Kenjeran
  • Juara 2 Sekeha Dharma Gita Margowening – Krembung
  • Juara 3 Sekeha Santi Swara – Juanda

Penampilan terbaik diraih oleh Sekeha Prami Santi Swara – Juanda

Kreatifitas Terbaik diraih olehSekeha Jala Wira Dharma – KOARMADA II

Gagasan Terbaik diraih oleh Sekeha Wiguna Bahari – Kenjeran

Terfavorit diraih oleh Sekeha Baruna Sakti Swara Junior – Pasraman Saraswati 1 Kenjeran.

Lomba yang bertujuan ganda salah satunya adalah sebagai bentuk pembinaan generasi muda agar selalu bersemangat melestarikan seni dan budaya terlebih lagi hal itu berkaitan langsung dengan ritual keagamaan yang akan rutin dilaksanakan.

Sambutan penonton yang antusias agar kegiatan positif seperti ini terus berproses kedepannya terus menjadi lebih baik , bukan kemenangannya yang membahagiakan tetapi yang lebih membahagiakan adalah ketika kebersamaan kita dalam suasana ngayah bahagia yang bisa terus terjaga agar kita bangga sebagai keluarga besar.

Untuk hadirin yang belum sempat menikmati suasana lomba baleganjur dan bazaar ataupun yang belum beruntung mendapat hadiah kali ini, Astungkara… tahun depan bisa mendapat banyak keberuntungan di Pura Segara Surabaya.

Besarnya rasa syukur kita bersama dengan kelancaran setiap proses kegiatan Senam, Jalan Sehat, Bazaar dan Lomba Baleganjur adalah atas Asung Kerta Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Salam Baleganjur !

Pak dug pak dug pak dug pakkk…ceng….

Kategori
Uncategorized

DENGAN KEMENANGAN DHARMA KITA BANGUN KEHIDUPAN BERBANGSA BERNEGARA YANG SHANTIH JAGADHITA

Oleh ; Prof . I . Nyoman Sutantra MSc.Phd

Renungan

Jika Ada Dharma dihati, maka akan ada keindahan laku.
Jika ada keindahan laku, maka akan ada keharmonisan rumah tangga.
Jika ada keharmonisan rumah tangga, maka akan ada kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan ber-bangsa dan ber-negara.

Enam bulan kita telah merayakan hari suci Galungan – Kuningan, hari kemenangan Dharma, enam bulan juga kita telah menjalani kehidupan ber-masyarakat, ber-bangsa dan ber-negara. Karena berjalannya waktu, karena berbagai godaan yang datang dari luar dan dari dalam diri, maka sangat mungkin berbagai kesalahan dan dosa telah kita lakukan karena terkikisnya Dharma dari hati kita.

Dengan terkikisnya Dharma dihati, maka berbagai masalah yang dapat merusak suasana kerukunan, kedamaian, keharmonisan dan ketentraman dalam kehidupan ber-masyarakat, ber-bangsa dan ber-negara. Inilah saatnya dihari suci Galungan dan Kuningan ini sambutlah Avatara yang akan membawa kemenangan Dharma dihati kita. Dalam sloka Bhagavad Gita Bab IV. Sloka 7 disebutkan sebagai berikut :

Yadaa-yadaa hi dharmasya glaanir bhavati bhaarata, abhyuttaanam adharmasya tadaa’tmaanam srjaamy aham.

Yang artinya : O Barata, kapanpun dan dimanapun didunia ini jika A-Dharma menguasai hati manusia, menguasai dunia, dan Dharma sudah terkikis dihati manusia, maka pada sat itu pula Aku akan menjelma untuk menegakkan kembali Dharma.

Perayaan hari suci Galungan dan Kuningan sebagai hari kemenangan Dharma adalah untuk memperingati kemenangan Dharma melawan A-Dharma, sehingga Dharma bangkit lagi dihati manusia. Perayaan ini dilandasi oleh kemenangan Dharma melawan A-Dharma yang diungkap dalam purana dan itihasa. Dengan merayakan hari suci Galungan dan Kuningan secara benar dengan Yajna Satwika serta pemahaman secara mendalam arti filsafat dari pelaksanaan Yajna tersebut, maka akan dapat membangkitkan kemenangan Dharma dihati umat manusia. Dengan Dharma dihati itulah modal utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, damai, harmonis, adil dan sejahtera atau masyarakat yang Shantih Jagadhita.

Dalam Siva Purana diungkapkan bahwa kehidupan umat manusia di bumi kehilangan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan karena dikuasai oleh para raksasa yang dilanda sifat A-Dharma yaitu sifat tamasika dan rajasika. Disamping itu karena keserakahan dari para raksasa, sehingga merusak ketentraman kehidupan umat manusia, sampai-sampai ia ingin menguasai Surga, sehingga mengganggu kehidupan para Dewa di Surga. Karena tugas para Dewa adalah menjaga ketentraman kehidupan manusia di Bumi dan kehidupan Surga, maka para Dewa sebagai penegak Dharma harus turun berperang melawan para Raksasa yang bersifat A-Dharma. Disinilah terjadi perang antara para Dewa ( Dharma ) yang dipimpin oleh Kartikeya ( putra dewa Siwa ) dengan para Raksasa ( A-Dharma ) yang akhirnya dimenangkan oleh para Dewa ( Dharma ). Karena kemenangan para Dewa ( Dharma ) dan hancurnya para Raksasa ( A-Dharma ), maka Dharma kembali ditegakkan dan kehidupan umat manusia di bumi kembali rukun, damai, harmonis, adil dan sejahtera atau kehidupan Shantih Jagadita serta kehidupan Surga tidak lagi diganggu oleh para raksasa.

Dalam Itihasa Ramayana yang terjadi pada jaman Treta Yuga, raja raksasa yaitu Rahwana adalah raja yang bersifat A-Dharma, sangat serakah akan harta, tahta dan wanita. Dengan keserakahan raja Rahwana tersebut maka kehidupan para pertapa, para raja, orang-orang suci dan umat manusia selalu terancam, tidak aman, tidak damai, bahkan tersiksa dan terbunuh jika menentang raja Rahwana. Banyak pertapa yang dibunuh oleh pasukan raksasa dari raja Rahwana, banyak raja yang disiksa dan terbunuh setelah ditaklukan oleh raja Rahwana. Saking serakahnya, raja Rahwana juga menantang para Dewa dan mau menguasai Surga. Karena kehidupan di bumi terguncang, Surga juga terganggu oleh keserakahan dari raja Rahwana, maka Avatara Wisnu turun ke bumi, sebagai Rama Dewa putra sulung dari raja Dasarata untuk kembali menegakkan Dharma dan melindungi orang-orang saleh dan menghancurkan angkara murka ( A-Dharma ) yaitu raja Rahwana. Perang terjadi antara Rama sebagai simbul Dharma melawan Rahwana sebagai simbul A-Dharma yang dimenangkan oleh Rama. Setelah Rahwana gugur dalam perang, Wibisana adik Rahwana yang teguh menegakkan Dharma dinobatkan sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana. Dengan Dharmalah Wibisana dapat membawa Alengka menjadi negara damai, harmonis, adil dan sejahtera.

Begitu juga Itihasa Mahabarata yang terjadi pada Dwapara Yuga mengungkapkan bahwa turunnya Avatara Wisnu yaitu Krisna untuk menegakkan kembali Dharma dan melindungi orang-orang saleh dan menghancurkan orang-orang jahat. Seperti diungkapkan dalam Bhagavadgita bab IV.Sloka 8 sebagai berikut :

Paritraanaaya saadhunaam vinaasaaya ca duskrtaam, dharmasaamstaapanaarthaaya sambhavaami yuge-yuge.

Yang artinya bahwa turunnya Avatara Wisnu Ke Bumi adalah untuk melindungi orang-orang soleh atau orang-orang baik dan membasmi orang-orang jahat, untuk membangkitkan kembali Dharma dihati setiap manusia Avatara akan turun di setiap jaman.

Avatara Krisna turun ke bumi adalah untuk melindungi dan menyelamatkan orang-orang baik yaitu Pandawa yang teguh menegakkan Dharma dan untuk membasmi orang-orang jahat yaitu Kurawa yang menegakkan A-Dharma. Akibat sifat A-Dharma yang dilakukan oleh Kurawa, maka perang besar yaitu Bharata Yuda terjadi antara Pandawa sebagai simbul Dharma yang dilindungi Avatara Krisna melawan Kurawa dengan simbul A-Dharma, dan dimenangkan oleh Pandawa. Dengan dibasminya Kurawa ( A-Dharma ) dan dengan dinobatkannya Yudhistira ( Pandawa ) sebagai raja Astina Pura, maka Astina Pura menjadi kerajaan yang rukun, damai, harmonis, adil dan sejahtera.

Rama Dewa sebelum berperang melawan Rahwana, Rama diusir oleh ayahnya raja Dasarata ke hutan selama 14 tahun, karena hasutan ibu tirinya Ratu Keikayi, sampai istrinya Dewi Sinta diculik oleh Rahwana sehingga terjadi perang Rama dengan Rahwana. Karena Rama adalah simbul dari Dharma maka kepergiannya ke hutan mengandung nilai filsafat yang sangat dalam yaitu melakukan jana krtih (penyucian diri), atma krtih (penyucian bathin), buwana krtih (penyucian alam), wana krtih (penyucian hutan), danu krtih (penyucian danau,sungai) segara krtih (penyucian pantai,laut). Proses penyucian tersebut mengandung makna bahwa untuk kemenangan Dharma dihati, orang harus dapat menjadi manusia Tri Kaya Parisudha (manacika, wacika, kayika) dan dapat menegakkan filsafat Tri Hita Karana (Parahiyangan, Pawongan, Palemahan).

Pandawa sebelum terjadi perang besar Bharata Yuda, karena keserakahan dan kelicikan Kurawa dalam permainan dadu, sehingga Pandawa kalah dan diusir kehutan selama 13 tahun. Karena keteguhan Pandawa menegakkan Dharma dan atas perlindungan dari Krisna sehingga Pandawa berhasil dengan baik mengokohkan diri menjadi manusia Tri Kaya Parisudha dan teguh memegang prinsip Tri Hita Karana. Dengan kekuatan Dharma tersebut dan perlindungan dari Avatara Krisna, maka Pandawa dapat memenangkan perang Bharata Yuda melawan Kurawa.

Sebuah Purana di Bali mengungkapkan bahwa, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat Bali hancur setelah seorang raja sangat sakti bersifat A-Dharma,sangat serakah yang memaksa rakyat Bali untuk tidak lagi melaksanakan kegiatan sesuai ajaran Dharma. Masyarakat Bali tidak boleh lagi memuja Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dan para Dewa, dan harus memuja dan memberi upeti yang besar kepada raja sakti tersebut yaitu raja Maya Denawa. Karena kekacauan yang terjadi akibat prilaku raja Maya Denawa yang A-Dharma, dan karena puja, tapa brata dan meditasi yang dilakukan oleh seorang suci memohon perlindungan tuhan yang maha kuasa, maka turunlah Batara Indra dan bala tentaranya. Turunnya Batara Indra dan bala tentaranya adalah untuk melindungi masyarakat Bali dan menumpas raja A-Dharma yaitu Maya Denawa. Terjadilah perang besar antara pasukan Dewa Indra sebagai simbul Dharma melawan pasukan raja Maya Denawa sebagai simbul A-Dharma, yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Batara Indra. Setelah gugurnya raja Maya Denawa, masyarakat Bali kembali hidup rukun, damai, harmonis, adil dan sejahtera.

Dari uraian Purana dan Itihasa tersebut, maka pelaksanaan yajna hari suci Galungan dan Kuningan adalah untuk menegakan kembali Dharma dihati, untuk menjadi manusia Tri Kaya Parisudha dengan satunya pikiran (manacika), perkataan (wacika), perbuatan (kayika) dalam tuntunan Dharma. Atau kita dapat menjadi manusia yang selalu dapat dengan teguh dan juga santun dalam menegakkan kebenaran (satyam), kebajikan (sivam), dan menjaga serta membangun keindahan, kerukunan, kedamaian dan kesejahteraan (sundaram). Disamping itu perayaan hari suci Galungan dan Kuningan juga dimaksudkan utuk meneguhkan konsep kehidupan yang harmonis keatas, kepada Tuhan Yang Maha Esa (parahiyangan), harmonis secara horizontal yaitu sesama mahluk (pawongan), dan harmonis kebawah yaitu kepada alam (palemahan) atau disebut konsep ajaran Dharma yaitu Tri Hita Karana. Oleh karena itu maka Yajna hari suci Galungan dan Kuningan dilaksanakan berlandaskan kepada ajaran Tri Kaya Parisudha dan Satyam Sivam Sundaram dengan urutan pelaksanaan sebagai berikut.

  1. Hari Sugihan Jawa : berasal dari 2 kata, Sugihan artinya penyucian, sedangkan jawa berarti alam semesta atau buwana agung. Sugihan Jawa mengandung arti yajna penyucian alam yang meliputi Buwana Krtih (penyucian, pembersihan alam lingkungan), Wana Krtih (penyucian, pembersihan hutan, pepohonan), Danu Krtih (penyucian,pembersihan danau dan sungai), dan Segara Krtih (penyucian,pembersihan pantai, laut). Karena Pura, Parahiyangan atau tempat suci sebagai niasa dari alam semesta, maka di hari sugihan jawa sering umat melakukan pembersihan tempat suci. Penyucian dan pembersihan alam semesta ini punya arti yang dalam yaitu agar alam semesta (sebagai prakrti) tidak mengganggu manusia dengan sifat Tri Guna yaitu sifat Tamasika (kemalasan,kebodohan), Rajasika (kenafsuan, keserakahan) dan Satwika (kebaikan yang tergantung pada duniawi).
  2. Hari Sugihan Bali : setelah hari Sugihan Jawa, hari berikutnya dilaksanakan yajna sugihan bali yaitu penyucian dan pembersihan diri manusia secara lahir atau Jana Krtih dan secara bathin ataun Atma Krtih. Penyucian dan pembersihan diri secara lahir dan bathin ini mengandung makna agar musuh-musuh yang ada dalam diri yaitu Sad Ripu yaitu Kama, Kroda, Lobha, Mada, Matsya dan Moha menjadi bersih, sehingga tidak lagi mengganggu manusia dalam melaksanakan yajna hari suci Galungan dan Kuningan. Disamping itu musuh dalam diri yang berupa 7 kesombongan dan keangkuhan yaitu Sapta Timira yaitu sombong karena kekuasaan, kekayaan, kekuatan, kecantikan, kepintaran,keturunan dan kemudaan.
  3. Penyekeban : setelah hari sugihan bali, hari berikutnya dilakukan yajna penyekeban yang artinya sebagai yajna untuk memagari diri yaitu pikiran , perkataan dan perbuatan, agar musuh atau godaan dari luar berupa Tri Guna dan dari dalam diri berupa Sad Ripu dan Sapta Timira tidak dapat mengganggu manusia dalam beryajna untuk menegakkan kembali Dharma dihati manusia.
  4. Penyajaan : sehari setelah hari penyekeban dilaksanakan yajna penyajaan yang artinya umat manusia menyiapkan diri dan bertekad bulat lahir dan bathin, dengan mengendalikan pikiran perkataan dan perbuatan untuk menundukan sifat A-Dharma serta menegakkan Dharma dihati. Manusia bertekad menyiapkan dirinya menjadi “kuru setra” yaitu medan perang antara sifat Dharma melawan A-Dharma.
  5. Penampahan : sehari setelah penyajaan dilaksanakan yajna penampahan. Penampahan berasal dari kata tampah yang artinya menundukkan, sehingga penampahan mengandung arti bahwa manusia mulai berperang untuk menundukkan sifat Tamasika dan Rajasika dengan “nampah” babi, karena babi adalah simbul dari sifat Tamasika dan Rajasika. Dihari penampahan sifat Tamasika (malas) ditundukkan dan dirubah menjadi sifat rajin yaitu dengan bangun pagi jam 03.00 bersama-sama untuk nampah babi. Sifat Tamasika yaitu sifat kenafsuan atau ambisi dan serakah ditundukkan dan dirubah menjadi sifat yang kreatif dan analistis untuk membuat “lawar” dan berbagai masakan untuk yajna dan prasadam yang dicampur dengan berbagai bumbu dengan aturan dan takaran yang tepat. Setelah menundukkan sifat Tamasika dan Rajasika, maka umat manusia mengendalikan sifat Satwika yaitu sifat kebaikan agar tidak mengikatkan diri dengan duniawi. Untuk itu umat mulai membuat penjor sebagai niasa dari sifat Satwika yang lascarya dilandasi Dharma. Segala perwakilan isi alam ada dalam penjor yang dibuat dari bambu yang tegak lurus, yang menunjukkan sifat kebaikan yang teguh dalam menegakkan Dharma sehingga tidak tergoda oleh Tri Guna dan Sad Ripu. Kemudian pada puncak penjor melengkung secara indah dengan digantungkan Ong Kara yaitu simbul dari Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut mengandung arti bahwa manusia harus selalu mengingat Tuhan agar tidak sombong dan angkuh atau dapat menundukkan Sapta Timira dari dalam diri. Bagian penjor yang tegak keatas mengandung arti kebenaran (satyam), bagian yang melengkung indah mengandung arti kebajikan (sivam), dan “sampian” penjor yang indah tergantung diujung mengandung arti tercapainya tujuan hidup yang indah (sundaram).
  6. Hari Galungan : setelah penampahan atau setelah umat manusia dapat menundukkan godaan dari luar yaitu Tri Guna dan sudah siap untuk menundukkan Sad Ripu dan Sapta Timira serta juga siap untuk menegakkan kebenaran (satyam), Kebajikan (sivam) untuk menuju kehidupan yang indah, damai, sejahtera (sundaram), maka manusia melaksanakan yajna Galungan. Dengan melaksanakan yajna Galungan, umat manusia mulai mengendalikan (10) indrianya sampai dengan hari Kuningan. Indria yang harus bisa dikendalikan adalah Panca Budindria yaitu mata, hidung, telinga, lidah dan kulit, serta lima indria lainnya yaitu Panca Karmendria yang terdiri dari tangan, kaki, mulut, alat kelamin dan dubur. Pengendalian sepuluh (10) indria ini dimaksudkan agar manusia dapat menundukkan godaan A-Dharma yang datang dari luar dan dalam diri manusia.
  7. Hari Kuningan : Pada hari suci Kuningan umat manusia harus mengendalikan indria yang ke 11 atau mengendalikan rajanya dari 10 indria yang disebut Rajendria yaitu pikiran agar pikiran menjadi “uning” atau paham kembali akan ajaran Dharma dan menjadi “hening” yaitu menjadi cerdas dalam Dharma. Untuk dapat mengendalikan 10 indria tersebut dan pikiran, kita harus bisa melakukan Catur Ga, seperti dituntun dalam sastra : Gita gangga ca gayatri govindeti catus tayam, catur gakara sam yukte punar janma na vidyatte. Artinya untuk mengendalikan 10 indria dan pikiran, manusia harus selalu membaca dan memahami pengetahuan agama (gita), menyucikan diri lahir dan bathin (gangga), berdoa dengan penuh bhakti kepada Tuhan (gayatri) dan harus selalu mengingat atau menyebut nama Tuhan (govinda). Dengan melakukan Catur Ga yaitu gita, gangga, gayatri dan govinda, maka hati dan pikiran manusia menjadi uning dan hening sehingga manusia dapat memenangkan Dharma dihati untuk membangun kehidupan yang Shantih Jagadhita yaitu kehidupan rukun, damai, harmonis, adil dan sejahtera.

Dengan memahami secara mendalam arti dan makna serta melaksanakan yajna hari suci Galungan dan Kuningan yaitu hari kemenangan Dharma dengan ketulusan dan penuh rasa bhakti, maka manusia akan dapat menegakkan Dharma dihati. Dengan Dharma dihati maka manusia menjadi manusia dengan Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana dan Satyam Sivam Sundaram yang mampu menundukkan berbagai musuh, godaan yang datang dari dalam dan dari luar diri manusia, sehingga siap membangun kehidupan keluarga, ber-bangsa dan ber-negara yang rukun, damai, harmonis, adil dan sejahtera, atau kehidupan yang Shantih Jagadhita.

Om Shantih Shantih Shantih Om

independentcasinos.net/review/red-lion-casino/

Kategori
Uncategorized

Pawai Seni Ogoh-Ogoh Surabaya

Pawai seni Ogoh-Ogoh Surabaya  sebagai Agenda Pariwisata Pemerintah Kota Surabaya 2019 yang dipusatkan di Pura Segara Kenjeran,Surabaya. Tradisi yang bisa menyatukan semua generasi umat Hindu yang berada di Kota Surabaya dan sekitarnya salah satunya adalah kegiatan Pawai Seni Ogoh-Ogoh. Semangat luar biasa untuk menampilkan kreatifitas seni budaya juga sebagai bentuk eksistensi umat Hindu yang menjaga tradisi ditengah kemajuan teknologi dan perubahan jaman.

 

Tema Nyepi 2019 :
Melalui Catura Brata Penyepian Kita Sukseskan Pemilu 2019

Energi positif dari Pawai Seni Ogoh-Ogoh yang mampu menyatukan lintas generasi berbaur saling bahu membahu mengarak ogoh-ogoh. Ada keunikan tersendiri pengarak ogoh-ogoh bukan hanya umat hindu tetapi ada juga masyarakat yang bersemangat membantu dan terlihat beberapa mahasiswa asing sangat antusias mengikuti acara pawai.Terlihat semangatnya sepanjang perjalanan sambil meneriakan yel-yel pemacu semangat ala jepang.

 

Antusiasme masyarakat mengikuti Pawai Seni Ogoh-Ogoh

Kolaborasi TNI-AL dan Musik Tradisional Bleganjur mengisyaratkan harmonisasi irama yang memberikan semangat kepada pembawa ogoh-ogoh maupun kepada penonton.Ogoh-ogoh dari umat Hindu TNI Angkatan laut menampilkan Bajak Laut sebagai inspirasi kejayaan yang menjadi legenda.

 

Kolaborasi Bleganjur dan Marching Band TNI-AL Koarmada II

Jaman boleh berubah,teknologi semakin canggih,munculnya generasi-generasi baru tetapi kita semua tidak berubah untuk mempertahankan tradisi budaya warisan leluhur.Anak-anak Pasraman Saraswati I Surabaya dengan semangat luar biasa mengarak ogoh-ogoh dengan berjalan kaki sepanjang 4km dari start sampai finish kembali ke Pura Segara Kenjeran,tidak terlihat raut lelah sepanjang perjalanan mereka yang diiringi para orang tua dan guru-guru pasraman.Jagalah semangat mereka…

 

Jagalah Semangat Mereka…

Kreatifitas mahasiswa gabungan KMHDI tak kalah semangatnya untuk menghasilkan kreatifitas ogoh-ogoh yang mereka buat disela-sela waktu kuliah yang padat,demi menjaga tradisi dan memperat rasa persaudaraan di perantauan,kreatifitas mereka didukung penuh umat hindu di Surabaya.

 

Kreatifias dan loyalitas tanpa batas mahasiswa untuk sebuah tradisi…

Inspirasi Perayaan Tahun Baru Saka adalah melaksanakan Catur Brata Penyepian,jika kita renungkan adalah implementasi introspeksi sebagai renungan untuk diri kita sendiri dan alam semesta.Di mulai dari Bali tradisi Nyepi adalah istirahatnya alam semesta dari berbagai macam polusi dari polusi udara kendaraan dan polusi akibat dari bisingnya berbagai aktifitas kita sehari-hari.Persembahan tradisi adiluhung para leluhur Bali untuk alam semesta, semoga kelak bisa menjadi Inspirasi Indonesia dan Dunia.

Kita sebagai generasi penerus harus tetap menjaga dan meningkatkan kualitas tradisi sebagai bagian dari Yadnya,implementasi Tri Hita Karana,jadilah kita pelaku karena itulah dukungan yang terbesar untuk generasi penerus kita. Kuatkan spirit kita dijalan Dharma.

” Satyam Shivam Sundaram – Kebenaran Kesucian Keindahan 

Sumber foto : dari berbagai sumber



Visit the Gamstop website: go to the https://bcgame-casino.co.uk/ website of Gamstop (www.gamstop.co.uk) to start the registration process.

Kategori
Uncategorized

Selamat Datang

Selamat datang di website Pura Segara Kenjeran,Surabaya semoga bisa memberi manfaat yang positif untuk kita semua…