RENUNGAN KORONA

RENUNGAN KORONA

Hasil renungan selama bekerja dari rumah

Sambil megegitaan.

I Nyoman Sutantra

          Setiap kejadian sekecil dan sebesar apapun di dunia ini pastilah seijin Tuhan yang telah menciptakan dunia ini. Melalui hukum karma yang diciptakan Tuhan sebagai hukum kehidupan, setiap ada perbuatan (karma) sebagai sebab pasti juga akan ada hasil atau akibatnya (pahala). Dan setiap proses sebab dan akibat didunia ini pastilah mengandung pesan atau pelajaran luhur bagi umat manusia untuk meniti kehidupan spiritual yang penuh kasih sayang.

         Pada kisah Ramayana, karena tidak bisa mengendalikan nafsu, keserakahan, dan kemarahan Rahwana menculik Dewi Sita istri Rama, mengakibatkan perang besar antara Rama yang didukung raja Sugriwa dengan pasukan keranya  melawan Rahwana sebagai raja Alengka dengan pasukan raksasanya. Karena perang besar tersebut maka mengakibatkan terbunuhnya Rahwana dan hancurnya kerajaan Alengka. Banyak rakyat Alengka menjadi janda dan sengsara akibat ditinggal suaminya yang terbunuh dalam perang.

Pesan dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut adalah bahwa, nafsu, keserakahan, dan kemarahan akan dapat berakibat kesengsaraan dan kehancuran bagi dirinya dan juga bagi umat manusia. Bahkan dalam sastra suci Bhagavad Gita dikatakan: nafsu, kemarahan, dan keserakahan adalah pintu gerbang menuju neraka, kesengsaraan.

        Pada kisah Mahabarata, karena rasa sayang yang buta dan berlebihan raja Drestarastra kepada anaknya Duryodana, maka ia tidak dapat berlaku adil kepada anak dari Pandu, yang memiliki hak pada tahta kerajaan. Duryadana menjadi anak yang penuh dengan kemarahan, nafsu dan keserakahan akan harta dan tahta. Sedangkan anak Pandu (adik Drestrarastra) yaitu Yudistira dan 4 saudaranga menjadi anak yang santun dan teguh memegang keberan, etika dan tata krama luhur, sehingga dapat hidup rukun, damai, harmonis, adil, satu, dan bersatu. Untuk maksud menyingkirkan Yudistira dan saudaranya, raja Drestarastra mengijinkan perjudian yang penuh tipu muslihat antara Duryadana dengan Yudistira dan saudaranya, disaksikan oleh raja, Rsi Bisma, guru Drona dan para pejabat. Karena kecersadasan dan kelicikan Sakuni, paman dari Duryadana, dapat membuat Yudistira mempertaruhkan kerajaannya dan juag istrinya yang berakhir dengan kekalahan. Karena kekalahan dalam perjudian itu, maka Yudistira dan saudaranya dibuang kehutan selama 13 tahun, bahkan istrinya Drupadi ditelanjangi oleh Dursasana, atas perintah Duryadana didepan raja dan para pejabat kerajaan. Raja Drestarastra walau tahu bahwa segala tindakan itu salah melanggar etika, namun karena cintanya yang buta kepada anaknya, maka ia membiarkan semua itu terjadi. Karena terikat oleh janji dan sumpahnya untuk selalu tunduk pada kehendak raja, maka Rsi Bisma, sebagai penasehat raja, juga tidak bisa menghentikan tindakan Dursasana adik Duryadana yang melanggar etika dan tata susila. Juga karena telah menerima kehormatan sebagai guru utama dan gelimangan harta dari raja Drestarastra, maka guru Drona juga tidak bisa berbuat apa-apa atas tindakan Duryadana dan Dursasana. Karna sebagai seorang kesatria besar, putra sulung dari Dewi Kunti, karena keangkuhannya dimanfaatkan oleh Duryadana. Karna diangkat sebagai raja, bagian dari kerajaan Astina, oleh Duryadana pada saat harga diri Karna dihancurkan didepan umum. Akibatnya Karna merasa sangat berhutang budi dan menganggap Duryadana sebagai sahabat sejati. Karena sikap dan tindakan raja Drestarastra, Rsi Bisma, Guru Drona dan Karna, yang seharusnya mampu mengendalkan konflik, tetapi tidak melakukannya, maka berakibat terjadinya perang saudara yang dahsyat antara pihak Duryodana (Kurawa) dan pihak Yudistira (Pandawa) yaitu “Barata Yuda”. Perang dahsyat tersebut telah mengakibatkan terbunuhnya ribuan kesatria besar dan ratusan raja, serta menyengsarakan rakyat. Perang besar tersebut dimenangkan oleh Pandawa yang selalu memegang teguh moral kebajikan dan selalu satu dan bersatu, mengendalikan ego, nafsu, keangkuhan dan keserakahan.

Pesan dan pelajaran penting yang patut dipetik adalah: sebagai raja atau pemimpin janganlah seperti raja Drestarastra. Sebagai tokoh besar, penasehat raja, janganlah terjebak seperti Rsi Bisma. Sebagai guru Besar, guru bangsa, janganlah terjebak seperti Guru Drona. Sebagai kesatria besar, janganlah terjebak hutang budi seperti Karna. Sebagai putra raja, janganlah angkuh dan serakah seperti Duryodana. Sebagai ilmuwan cerdas, janganlah licik dalam menggunakan kecerdasannya seperti Sakuni. Jadilah manusia yang selalu santun dan teguh menegakkan kebenaran, mengendalikan nafsu, ego, kemarahan, keserakahan, dan hiduplah rukun, damai, harmonis, adil, satu, dan bersatu seperti Pandawa.        

         Pada saat perang “Barata Yuda” telah terjadi wabah dahsyat yaitu kematian masal yang mistirius dari pasukan Kurawa dan juga Pandawa, diakibatkan oleh virus berupa pasukan raksasa kerdil yang berkembang dan berubah dengan cepat dan tidak terlihat dengan mata biasa. Virus berupa raksasa kecil tersebut dapat dengan mudah  membuat setiap orang yang dekat menjadi batuk, sesak nafas, pusing dan langsung meninggal. Pasukan raksasa tersebut sangat mistirius, berjumalah sangat banyak, dan sangat cepat memperbanyak serta merubah diri sehingga sangat sulit dikendalikan, membuat baik pihak Pandawa maupun Kurawa cemas. Virus berupa pasukan raksasa ini adalah datang dari enersi ilmu supra natural yang disebut “ajian Candrabirawa” yang dimiliki prabu Salya yang menggunakannya dengan penuh nafsu, kemarahan, dan kerakahan. Parabu Salya adalah seorang raja, paman dari Nakula dan Sadewa (Pandawa), karena terjebak oleh kelicikan Sakuni, maka pada perang Barata Yuda ia memihak pada Kurawa. Tidak ada yang mampu mengendalikan wabah dahsyat kemanusian tersebut baik dari pihak Kurawa maupun Pandawa. Hanya Krisna, orang suci pemegang moral, sebagai penasehat perang Pandawa dapat mengetahui dengan jelas bahwa wabah dahsyat itu hanya bisa dihentikan dengan pengetahuan kebenaran, kekuatan moral, kebajikan, welas asih, ketulusan, dan kedisiplinan yang tulus. Semua sifat itu dimiliki oleh Yudistira, dan pengetahuan kebenaran yang disebaut Cakra Baskara yang dimiliki oleh Krisna. Yudistira dengan bekal sikap luhur tersebut dan pengetahuan keberan berupa Cakra Baskara dari Krisna berperang melawan Prabu Salya, berakhir dengan terbunuhnya Salya, sebagai sumber dari wabah dahsyat, dan seketika wabah berhenti.

Pesan dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut: sebagai pemimpin, sebagai kesatria besar, dan sebagai orang yang memiliki  kekuatan supra natural gunakanlah itu untuk kemanusiaan, janganlah seperti Salya yang menggunakan kekuatannya itu dengan penuh nafsu, kemarahan, dan keserakahan. Untuk menghadapi wabah yang dahsyat yang mengakibatkan kesengsaraan dan kematian, belajarlah dari sikap dan tindakan luhur yang dimiliki dan dilakukan oleh Krisna dan Yudistira.           

         Setelah jaman Mahabarata, yaitu jaman modern seperti sekarang ini, masih sangat banyak umat manusia yang belum dapat memahami pesan dan memetik pelajaran luhur dari kisah Ramayana, Mahabarata, dan kisah-kisah luhur lainnya. Manusia di jaman modern banyak yang tidak mampu mengendalikan nafsu, ego, kemarahan, keserakahan, dengki, iri hati, kegelapan, dan kebodohan sehingga sangat sering mengakibatkan perselisihan, konflik, radikalisme negatif, dan perang yang dapat menyengsarakan, menyakiti, dan membunuh umat manusia. Karena keserakahan akan tahta dan harta, manusia di jaman modern telah merusak habis hutan sehingga berakibat pemanasan global, banjir, tanah longsor, puting beliung, turunnya air tanah dan dampak negatif lainnya yang dapat menyengsarakan dan merusak kehidupan manusia. Dengan nafsu, ego, dan keserakahan manusia  akan harta dan tahta telah mengakibatkan perselisihan, konflik, dan perang antar individu, kelompok, dan golongan yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan suatu bangsa. Kekayaan alam sebagai anugrah Tuhan yang seharusnya dijaga dan digunakan dengan hati-hati untuk kesejahteraan umat manusia, telah dengan penuh nafsu, kemarahan, dan keserakahan telah dikeruk sebanyak-banyaknya. Dengan terkeruknya kekayaan alam seperti itu, maka alam akan mencari keseimbangan kembali melalui gempa, pergeseran lempeng, tsunami, gunung meletus, perubahan musim yang tidak lagi dapat diprediksi, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menyengsarakan umat manusia. Semua kegiatan alam tersebut mengandung pesan dan pelajaran luhur yang seharusnya mampu dipahami dan dipetik oleh manusia modern.

        Dengan alasan konsumsi, pemenuhan gisi, stamina, pengobatan, penelitian dan kebutuhan lainnya, manusia dengan serakah menyiksa dan membunuh binatang-binatang dengan tanpa mengindahkan etika kebinatangan. Menyiksa dan membunuh binatang dengan tanpa etika kebinatangan, akan sangat mungkin membuat jiwa-jiwa dari para binatang memancarkan energi negatif yang dapat merusak kesucian dan kebersihan alam lingkungan. Pancaran energi negatif dari jiwa-jiwa binatang yang tersiksa dan terbunuh dapat menghasilakn virus atau kuman yang mengakibatkan berbagai jenis penyakit yang mewabah dan mematikan. Flu burung, flu ayam, flu babi, flu unta, dan juga Virus Korona yang sangat mungkin buah dari pancaran energi negatif dari jiwa jiwa binatang yang tersakiti, tersiksa, dan terbunuh yang terakumulasi. Karena terakumulasi sangat banyak sehingga energinya sangat kuat yang mengakibatkan wabah pandemi Virus Korona berkembang dan berubah sangat cepat memasuki hampir seluruh negara di dunia, kedahsyatannya seperti wabah dahsyat Aji Candrabirawa Prabu Salya. Semua kejadian itu pastilah mengandung pesan dan pelajaran yang memuat nilai-nilai luhur untuk dapat menuntun kehidupan luhur umat manusia.  Untuk mengatasi wabah pandemi yang dahsyat ini kita dapat belajar dari Krisna dan Yudistira dalam menghadapi virus dahsyat berupa raksasa kerdil yang tak terlihat dari Aji Candrabirawa, saat perang Barata Yuda.

        Pesan dan pelajaran dari Krisna dan Yudistira, salah satu yang utama untuk mengatasi wabah dahsyat adalah dengan senjata kebenaran dalam wujud Cakra Baskara dari Krisna, moral, kebajikan, dan budi luhur dari Yudistira. Cakra Baskara pada jaman modern dapat berupa segala pengetahuan kebenaran yang patut diberdayakan oleh para ahli secara tulus dan tanpa pamrih, untuk menghasilkan vaksin, obat obatan, dan segala peralatan bantu dalam usaha menghindari penyebaran dan membantu penyembuhan akibat Virus Korona. Umat manusia harus meningkatkan kualitas moral dan kebajikan dengan mengendalikan pikiran, nafsu, kemarahan, ego, keserakahan, dan disertai doa untuk tidak cemas dan stress yang diwujudkan dengan “tetap berada dirumah” dan “bekerja dari rumah”. Disamping itu umat manusia harus mengendalikan perkataanya untuk selalu santun, tidak mencemoh, tidak mengejek, tidak menyakiti, tidak berbohong, tidak bikin berita sosial bohong, tidak mengasut, tidak mengeluh, dan tidak melakukan penistaan yang diwujudkan dengan “memakai masker”. Begitu juga umat manusia harus menjaga budi pekerti luhur dengan selalu menjaga kehidupan yang saling menghormati, saling berbagi, rukun, damai, harmonis, saling asah, saling asih, saling asuh yang diwujudkan dengan “menjaga jarak”. Akhirnya umat manusia juga harus selalu menjaga kesucian, kebersihan, dan kesehatan lahir dan batin dengan menjaga kualitas makan dan olah raga untuk imunitas tubuh yang diwujudkan dengan “cuci tangan dengan sabun”. Kelima hal tersebut patut dilaksanakan dengan penuh disiplin, tulus, tanpa pamrih, dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Dengan cara demikian dengan disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga umat manusia dikaruniai kerahayuan, dilapangkan jalan untuk mengatasi pandemi yang melanda umat manusia.

Ditutup dengan pupuh Durme:

Nenten lali setate nyuciang tangan,

Kesarengin nyuciang rage,

Nguncarang mantra Gayatri,

Miwah Maha Mertyu mantra,

Mangde side kerahayuan,

Luput antuk

Serangan virus korona.      

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of